Pernahkah si kecil tiba-tiba mengeluh pusing, bahkan hingga menangis karena tak kuat menahan rasa sakit di kepalanya? Jika ini terjadi lebih dari sekali, Anda wajib waspada. Berdasarkan data dari National Headache Foundation, satu dari lima anak pernah mengalami sakit kepala berulang sebelum usia 10 tahun. Fenomena ini bukan hanya sekadar kelelahan atau kurang tidur — bisa jadi ini sinyal awal gangguan serius yang tak disadari.
Kenapa Sakit Kepala Anak Tak Boleh Dianggap Sepele?
Sakit kepala pada anak bisa berbeda dari orang dewasa. Gejalanya pun bisa samar: mudah marah, menangis tanpa sebab, atau tiba-tiba lesu. Itulah kenapa penting bagi orang tua untuk memahami gejala sakit kepala anak sejak dini.
“Dulu saya pikir anak saya hanya terlalu lelah. Tapi setelah sakit kepala berulang selama sebulan, ternyata ada masalah di bagian sinusnya,” ujar Liana (32), seorang ibu dua anak dari Bandung.
Sakit kepala bisa bersifat sementara, tapi jika terjadi terus-menerus atau datang tiba-tiba dan sangat hebat, perlu evaluasi medis segera.
5 Biang Keladi Sakit Kepala Anak yang Sering Terabaikan
1. Migrain Anak — Bukan Cuma Masalah Orang Dewasa
Anak-anak juga bisa mengalami migrain. Bahkan, menurut Mayo Clinic, sekitar 10% anak-anak usia sekolah mengalami migrain anak. Gejalanya meliputi denyutan di satu sisi kepala, mual, bahkan sensitif terhadap cahaya atau suara. Biasanya berlangsung selama 1–2 jam, berbeda dengan migrain dewasa yang lebih lama.
2. Gangguan Penglihatan — Mata Lelah Bisa Picu Pusing
Anak yang mengalami masalah mata seperti rabun jauh atau silinder cenderung menegang saat membaca atau menatap layar. Tegangan otot mata ini bisa memicu sakit kepala anak terutama di sore hari setelah belajar atau menonton TV lama.
Q: Bagaimana cara membedakan sakit kepala karena mata dengan migrain?
A: Biasanya sakit kepala karena mata muncul setelah aktivitas visual dan berkurang saat istirahat, tanpa disertai mual atau muntah.
3. Infeksi — Sinusitis hingga Flu Bisa Jadi Penyebab
Menurut American Academy of Pediatrics – Sinusitis in Children Sinusitis pada anak bisa menimbulkan tekanan di sekitar dahi dan pipi. Ini sering salah dikira sebagai sakit kepala biasa. Namun jika diiringi pilek berkepanjangan atau batuk malam hari, bisa jadi infeksi sinus yang perlu penanganan.
4. Stres & Kecemasan — Penyebab yang Tak Terlihat
Tekanan akademis, perubahan lingkungan, hingga konflik keluarga bisa memicu stres yang berujung sakit kepala. Anak mungkin belum bisa mengungkapkannya, tapi tubuh mereka merespon lewat keluhan fisik.
5. Tumor Otak — Langka, Tapi Harus Diwaspadai
Meski jarang, tumor otak bisa memicu sakit kepala berulang, terutama di pagi hari atau saat bangun tidur. Disertai muntah tanpa mual, gangguan keseimbangan, atau perubahan perilaku. Bila ada gejala seperti ini, segera konsultasikan ke dokter spesialis.
Jangan Salah Langkah, Ini Cara Menghadapinya
- Catat pola sakit kepala: kapan terjadi, berapa lama, dan pemicunya
- Konsultasi ke dokter bila lebih dari 2x seminggu
- Periksa mata anak setahun sekali
- Kurangi screen time dan jaga pola tidur
- Ajarkan teknik relaksasi ringan untuk anak
Kesimpulan: Jangan Tunda, Bertindak Sekarang Demi Masa Depannya
Membiarkan anak mengalami sakit kepala berulang tanpa kepastian penyebab bisa berdampak serius bagi tumbuh kembangnya. Tak hanya menurunkan performa belajar, tetapi juga mengganggu kualitas hidup seluruh keluarga. Orang tua harus bertindak proaktif, bukan reaktif. Semakin dini diketahui, semakin besar kemungkinan sembuh total tanpa komplikasi.
Ingat: Setiap sakit kepala punya cerita. Jangan abaikan sinyal dari tubuh anak Anda.

